Seberapa Pantas
Sejak hari itu, diriku tak terlihat seperti biasanya. Semuanya harus berubah, perbedaan jarak dan kondisi yang menjadi penghalang, serta berjuta alasan dalam diri ini yang harus pergi dari dirinya.
Adzan subuh datang seolah-olah mengetuk kelopak mata ku yang sedang terlelap. Kali ini lain, aku terbangun dengan perasaan yang tak sama seperti biasanya. Lantunan fajar yang sunyi seolah mengingatkan ku akan suatu hal yang mengoyak hati. ‘aku harus berubah’ batinku.
Aku
lekas berwudhu kemudian shalat shubuh untuk menenangkan hati ku dan mencurahkan
isi hati ini pada Yang Maha Kuasa dengan harapan Tuhan akan berbicara padaku
lewat hati ini. Di tengah keluh-kesah ku pada-Nya, aku merasa bahwa ini sudah
saatnya aku berubah, ya. Berubah menjadi sosok yang lebih baik.
‘tapi apa yang harus ku ubah?’
Hari itu aku jalani seperti biasa, berangkat kesekolah, bertemu teman-teman yang kusayangi dengan canda, tawa dan bahagia yang menghiasi hariku setiap harinya. Dan tentunya juga dirinya. Ia adalah sosok lelaki terbaik yang ku miliki, tak hanya kepintarannya, kemahiran nya dalam bermain berolahraga pun patut dipuji. Tapi apapun alasannya, jarak dan waktu yang terbatas dalam hubungan kami membuat ku berpikir, ‘apa ini ini sesuatu yang harus ku ubah, seperti meninggalkannya dan berjalan terus ke masa depan tanpa dirinya?’ batinku. Aku merasa tak biasa jika mulai jarang bertemu dengannya, karena rumah kami jauh, sekolah kami berbeda, dan keterbatasan waktu yang ia luangkan untuk berkomunikasi dengan diriku pun sangat sedikit. Dalam hal ini perasaanku yang telah berubah tak kan bisa dipaksakan. Mungkin ini yang ada di benakku selama ini, aku tak mungkin menjalin hubungan dengan nya bertahun-tahun karena aku punya masa depan, begitu pula dirinya. Ia berhak mendapatkan seorang perempuan yang lebih baik, dekat dengan rumah nya, dan dekat di sekolah, serta selalu ada untuknya, tak seperti diriku. Aku harus meninggalkan dirinya.
Entah apa yang ada di pikiran ku selama ini. Mungkin Aku dulu adalah seorang anak perempuan polos yang tak pernah sekali pun merasakan cinta--memikirkan tentang hal itu saja pun belum pernah! Tetapi dia datang membawa harapan dan mengubah segalanya. Semua terasa ajaib, waktu demi waktu ku lewati bersama dirinya, hingga saat ini.
Yang bisa ku rasakan saat ini, cara pandang ku padanya telah berbeda. Aku merasakan hal yang berbeda, dirinya tak lagi terlihat nyata bagi ku.
Sehari sebelum
aku merasakan hal itu, Ia menghampiri rumahku dengan senyumannya yang menawan
dan menyapaku “selamat pagi hazel J” “Pagi ansel! Wah tumben kamu kerumah aku, emang gapapa kamu
jauh-jauh gini?” tanya ku dengan wajah yang bingung. “gapapa lah, aku kan pengen
ketemu kamu” ansel berkata dengan wajah tersenyum sambil merangkul pundakku. setelah
itu kami menuju taman dekat rumahku dan ngobrol bersama. Kami membeli eskrim
dan berbincang tentang apa saja tanpa kehabisan topik dan tentunya dihiasi canda dan
tawa bersama. Memang tak ada yang lebih nyaman selain berada didekatnya. Selain
itu kami adalah pasangan yang saling melengkapi. Kami tak terlalu mementingkan
hal-hal sepele dalam hubungan kami, Karena semua masalah besar maupun kecil
kami lewati bersama. Saat itu waktu menunjukkan pukul 1:30. ia terbelalak lalu
berkata, “hazel, maaf yaa aku gak bisa sampe sore nih, jam 3 aku ada
pertandingan basket” “ooh iya gapapa kok, semangat yaa lombanya!” “iyaa okedeeh
siaap, kamu gak mau nonton? Nanti pulangnya aku anterin lagi” “hmm engga deh,
aku doain aja semoga menang yaa, soalnya hari ini aku mesti ke dokter” “kamu
sakit? Kenapa? Kok gak cerita sama aku?” “engga aku cuma medical checkup”
“okedeh, nih ada coklat dari kak alexa, kemarin malem dia baru aja pulang dari
los angles” katanya sambil menyodorkan satu pak coklat padaku. “iya, bilangin
kak alexa makasih yaa coklatnya” kataku sambil tersenyum. Lalu dia pun pulang
dengan mengendarai motornya, “hazel aku pulang dulu yaa, see you later! Take
care” “hati-hati yaa ansel! Take care too! see you again ansel.”
Ke esokan harinya, Perasaan aneh ini pun muncul, rasanya sangat berbeda jika membandingkan suasana hatiku kemarin dengan hari ini. Lalu aku berusaha menetralkan perasaanku dan berangkat ke sekolah. Saat pelajaran pun dimulai, seperti biasa aku pun belajar dengan fokus, dan mengabaikan gangguan yang ada dikelas. Saat istirahat berlangsung, aku dan temanku isaac mengambil makanan bersama. Isaac adalah sahabat laki-laki terbaik yang pernah kumiliki, ia selalu ada disaat diriku senang mapun sedih. Lalu aku menceritakan apa yang ku khawatirkan pagi ini pada isaac, dan ia mendengarkannya dengan seksama. “jadi, bisa gue simpulin kalo sekarang lo lagi jenuh gitu ya sama dia karena lo pengen berubah?” “ya semacam itu, tapi gue masih mau pertahanin hubungan gue karena ya gue juga gak yakin kalo gue siap kehilangan dia” “tapi lo harus ikutin kata hati lo zel, kalo lo capek sama dia, dan masih maksain perasaan lo, nanti hubungan lo sama dia jadi berantakan” “iya sih.. okedeh gue pikir-pikir dulu ya, makasih isaac”.
Setelah pulang sekolah, akupun chatting dengan ansel. Ada berjuta perasaan yang mengganjal dihatiku saat ini, aku berusaha mengungkapkan salah satunya. Aku mengungkapkan bahwa aku tak bisa dengan keadaan yang seperti ini, karena aku sangat amat takut kehilangan dirinya, maka mungkin salah satu cara untuk menghilangkan rasa takutku, yaitu meninggalkan dirinya. Kemudian dia memberikan reaksi yang tidak biasanya, ia sangat terkejut dan memohon padaku untuk tidak melakukannya. Tapi kemudian ia berubah sikap menjadi tenang dan menyerahkan semua keputusan padaku, ia ikhlas bila menerima keputusan apapun yang akan aku buat.
‘duh aku binguuungg’ gumamku dalam hati.
Aku memukul
kasurku dengan bantal dengan emosi yang sedang bertubi-tubi, dan tangisan pun
mulai jatuh ke pelupuk mataku. Namun, Beberapa menit kemudian, handphoneku tiba-tiba
berdering.
‘ansel’
Dengan berat hati aku mengangkat telpon darinya sambil mengontrol
segala emosi yang meluap di diriku. Namun, dalam berapa detik. Tangisku kembali
memecah. Tuhan, aku tidak sanggup.
Hazel: “ha...halo..ans..sel”
Ansel: “hazell.. kamu jangan nangis dongg, jangan khawatir, kalo kita pisah juga aku gak akan jauh dari kamu kok..”
Hazel: “taa..tapii.. aku juga gamauuu... kamu pergiiL, aku sayang sama kamu”
Ansel: “iya aku ngerti, tapi kan kamu bilang hidup kita masih panjang, dan kita juga masih punya masa depan yang terang di depan sana, dan aku gak mau jadi penghalang kamu buat ngedapetin apa yang kamu mau hazel..”
Hazel: “tapi aku gak bisa ngeliat kamu sama yang lain.. aku takuut”
Ansel: “kalo soal itu aku gak berani jamin... aku gak tau hidup aku kedepannya gimana, tapi kamu jangan terlalu terpaku sama aku juga, kamu bilang aku pantes ngedapetin yang lebih baik, tapi masa kamu engga? Kamu juga harus dapet yang lebih baik”
hazel: “tapi.. aku gak yakin bakal dapetin yang seperti kamu lagi ansel.. kamu yang terbaik buat aku dan aku sekarang harus belajar ngelepasin kamu.. susah banget..”
Ansel: “kamu inget gak waktu itu pernah bilang sama aku, ‘If something is destined for you, never in a million years will it be for somebody else.’ Jadi kamu jangan takut hazel.. kalo kita ditakdirin bareng lagi juga Allah maha mendengar kok”
Hazel: “iya aku inget.. tapi kamu jangan lupain aku ya ansel..”
Ansel: “mana mungkin aku lupain kamu, kamu juga yang paling terbaik dari yang lainnya, kalo pun aku dapetin yang lain nantinya, pasti gak ada yang sebaik kamu.”
Hazel: “tapii.. ansel.. kamu jangan berubah dan pergi seperti kamu gak kenal sama aku lagi saat kamu dapetin yang lebih baik..”
Ansel: “iya hazel, maafin aku ya belum sempurna buat kamu, aku sayang kamu, dan untuk hal itu, iya aku janji.”
Setelah aku memutuskan hubungan dengan Ansel pada hari itu, ia pun mulai sedikit berubah tanpa aku sadari. Sebulan kemudian, kami pun masih chat layaknya dua orang yang mempunyai ikatan spesial tanpa adanya status diantara kami. Tetapi seminggu kemudian, ia mulai jarang menghubungiku, sampai suatu hari ia menceritakan tentang perasaannya pada seorang perempuan cantik yang ada disekolahnya. Hari demi hari sikapnya mulai berubah dan ia seperti menjauhi diriku. Aku merasakan kesedihan yang sangat amat mendalam saat mengetahui hal itu. ‘Ansel, Semudah itukah kau mendapatkan pengganti diriku?’ batinku dengan perasaan kesal, sedih dan marah pada diriku sendiri.
Dua bulan pun
berlalu, perasaan ini masih pedih terasa, apalagi saat mengetahui bahwa dia
akhir-akhir ini tak pernah memberikanku kabar. Beberapa hari kemudian saat aku
sedang memikirkan dirinya, handphoneku pun kedip-kedip tanda bahwa ada pesan
yang masuk. Aku harap-harap cemas saat melihatnya, dan aku berharap bahwa itu
adalah Ansel. Benar saja, ternyata itu adalah pesan dari dirinya. Ia mengatakan
bahwa ia merindukanku dan meminta ingin bertemu denganku. Aku dengan perasaan
yang amat bahagia langsung menjawab pesan darinya tanpa berpikir panjang. Hari
sabtu, kamipun bertemu satu sama lain. Ia menjemputku disekolah dan membawaku
ke sebuah mall, lalu kami menonton film di bioskop. Walaupun kami sudah tak ada
ikatan, hari itupun kami merasa seperti masih menjadi sepasang kekasih. Sebelum
film dimulai, tiba-tiba ia mengatakan "hazel, mau balikan gak sama aku?"
aku yang tadinya sangat bahagia, menjadi bingung sekali. Aku hanya bisa
terdiam, tanpa menjawab pertanyaannya. Kemudian kami menonton film dengan
suasana hati yang rumit, bingung sekali, aku tak tau kemana hati ini akan
pergi.
Seminggu setelah
kami bertemu, kami masih berkomunikasi sewajarnya, tanpa ada rasa
khawatir karena aku percaya dia masih untukku. Semuanya terasa sempurna sampai
suatu hari ia menduga bahwa aku tak mempercayai dirinya lagi, lalu ia
mengatakan bahwa ia ingin pergi dariku. Hatiku terasa seperti di hantam oleh
batu yang besar, hancur lebur, luka ini sangat dalam, melebihi dalamnya lautan.
Aku tak dapat mengatakan apapun selain memohon padanya, "jangan pergi Ansel,
please stay!!!" tapi ia malah menjawabnya dengan tanggapan yang seperti
tak mempedulikanku lagi, "maaf hazel aku gak bisa mengikuti kemauanmu."
Jawabnya. Itu adalah pertama kali aku membencinya. Ya, aku benci dia setengah
mati.
Sebulan,
dua bulan pun berlalu, aku masih belum bisa berhenti memikirkannya. Setiap hari
perasaan ini selalu teringat olehnya, ia seperti menghantui hari-hariku, dan
hati ini pun tak pernah tenang lagi tanpanya. Dan aku terus menyalahkan diriku
dengan apa yang telah ku perbuat selama ini. Saat akhir tahun adalah waktu yang
tepat untuk meminta maaf terhadap semua kesalahan ku padanya, padahal, semuanya
bukan sepenuhnya salahku, tetapi ia juga meminta maaf kepadaku saat itu. Dan dikemudian
hari Ansel mulai menyapaku lagi, dan ia mengatakan bahwa ia ingin berteman
denganku. “TEMAN” ya itu adalah kata-kata paling menyakitkan yang dilontarkan
oleh seseorang yang dulunya pernah ku cintai setengah mati, sekarang aku hanya
disebut “teman” olehnya. Bahkan, aku pun tak akan percaya bahwa kami bisa bersatu
lagi, sekali pun hanya mejadi teman.
Dengan berat hati aku menyetujui permintaannya. Kemudian kami berkomunikasi
lagi, walau hanya beberapa minggu. Kemudia ia pergi, menghilang lagi, entah
kemana. Seperti hilang ditelan lautan. Rasanya aku menyesal menjadikan ia
sebagai temanku, karena ia tak pernah ada disaat aku membutuhkan dirinya.
Dua
bulan kemudian, tepatnya bulan Februari. Aku sudah tak kuasa dalam menahan rasa
rindu ini. Dengan segala kekuatan ku dalam menahan rasa rindu ini pun, akhirnya
aku memutuskan untuk mengirim pesan padanya. Namun, ketika aku mencoba untuk
menghubungi nya melalui pesan, ternyata ia merespon nya dengan baik dan membuat
hatiku amat senang. Tetapi kemudian ia memberi ku kabar. Aku sangat
terkejut ketika tenyata ia memberitahu ku bahwa ia memiliki pacar baru. Aku
hanya bisa diam, tanpa komentar, tersenyum dan menahan semua rasa sakit ini. Ya
dia memang laki-laki yang baik dan pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku.
Sejak saat itu diriku mulai tak biasa dengan kehadirannya di hidupku. Aku mulai
mencari jati diriku, melawan rasa takut ku dan mencoba melupakannya. Tapi berpindah
ke lain hati itu tak semudah dengan apa yang ku bayangkan.
Aku
masih memikirkan dirinya walaupun ia telah mempunyai pacar baru, pokoknya aku
tidak memperdulikan dengan siapa ia berpacaran, yang aku pedulikan hanya
persaanku pada dirinya. Benar saja ketika dia sudah mempunyai pacar, dia tetap
berusaha menghubungiku beberapa bulan kemudian walau hanya mengobrol beberapa
jam dalam sebulan. Tapi rasanya tak seperti dulu. Semuanya telah berubah. Aku
mulai lelah dengan semua ini, aku juga punya kehidupan untuk masa depanku dan
aku juga pantas menerima yang lebih baik dari ini. Aku tak mau menjadi pilihan
kedua. Aku berhak menjadi pilihan pertama seseorang, dan ini bukanlah yang aku
inginkan untuk masa depanku.
Tapi
aku juga tak dapat membohongi diri ini jika ialah laki-laki terbaik yang pernah
hadir dalam hidupku, mengisi ruang hampa ini walaupun hanya sekejap dan kemudian
ia menghilang. Semua janji nya bagaikan angin lalu bagi ku, ia seperti melupakan
ku, pergi dariku, bahkan tak pernah menengok masa lalunya yang pernah terisi
bersamaku. Rasanya aku ingin mengatakan pada mu ansel, bahwa aku adalah orang
yang tak pernah lelah dalam mencintai mu, tapi nyatanya, kau adalah orang yang
telah lelah untuk memperjuangkan diriku. Kau memang bukan segalanya, tapi
dengan mu semua hari-hari dalam hidupku amat berarti.
Seandainya
kau dapat mengetahui isi hatiku, pasti kau akan menangis. Betapa menyesalnya
diri ini melepaskan laki-laki terbaik sepertimu. Tapi memang aku tak bisa
memaksakan sesuatu. Jika kau hanya untuk diriku, aku pasti akan mendapatkan
dirimu kembali. Tapi untuk saat ini aku sudah lelah dalam mengucapkan namamu
dalam doaku. Aku mendoakan yang terbaik untuk hidupmu, walau akhir cerita cinta
kita telah usai. Semuanya harus berubah. Ya, akhirnya kini semuanya telah
berubah.
Lalu aku mengetik sebuah pesan
untuk Ansel,
“Jika aku menyayangimu,
itu bukan sepenuhnya salahmu. Tapi itu salah ku yang tak pernah mengerti bahwa
waktu bisa merubah segalanya. Jika aku tetap menyayangimu, itu juga bukan
sepenuhnya salahmu, itu hanya salah ku yang tak bisa mengerti keadaan. Hanya
saja, ternyata waktu kemudian mampu membuatku mengerti keadaan. Beribu waktu,
menit, jam, bahkan tak terhitung hari ku habiskan pikiran dan sedih ku untuk
mencintaimu. Aku tak pernah berhenti, hanya saja aku beristirahat, mencoba
lebih memahami waktu.“ kemudian aku kirim pesan itu dan menghapus semua kontak
Ansel yang ada di handphoneku. Aku mulai menyibukkan diri dengan sesuatu yang
lebih berguna untuk diriku di masa mendatang dan menyingkirkan masa lalu yang
telah usai.
Kau
memang yang terbaik, laki-laki terbaik yang pantas untuk dibanggakan, untuk
dicintai, untuk dikasihi dan untuk disayangi. Tapi pantaskah kau ku tunggu
walau hingga seribu tahun lagi?
cerpen ini dibuat berdasarkan kisah nyata.
Adindasha
cerpen ini dibuat berdasarkan kisah nyata.
Adindasha