Halaman

Artikel

Diam-diam Saya dan Anda Mengidap “Penyakit” FoMO.

Foto: Adinda
FoMO atau singkatan dari Fear of Missing Out adalah “penyakit” generasi millennial yang sedang mewabah saat ini. Disadari atau tidak, FoMO telah mempengaruhi perilaku kita yang kini cenderung memiliki ketergantungan dengan smartphone. Istilah FoMO dimasukkan ke dalam Oxford Dictionaries pada 2013 lalu, yakni dengan pengertian sebagai berikut.
FoMO; NOUN; mass noun; informal: ‘’Anxiety that an exciting or interesting event may currently be happening elsewhere, often aroused by posts seen on social media.’’

Istilah FoMO masih terdengar asing dikalangan remaja dan orang dewasa saat ini walaupun efeknya telah mempengaruhi hidup mereka. Sebuah pertanyaan sederhana, seperti “Pernahkah kamu merasa cemas saat orang-orang melakukan hal menarik dan seru tanpa dirimu?” Jika jawabannya ya, maka kamu juga pernah merasakan “penyakit” FoMO.

Sebelum mengetahui FoMO lebih jauh, sebuah video menarik diunggah oleh YouTube Channel, Moby berjudul ‘’Are You Lost In The World Like Me?’’ Pada Oktober 2016 lalu. Video ini sebagai gambaran singkat mengenai kekejaman media sosial yang telah mengubah perilaku dan gaya hidup banyak orang. Video yang berdurasi 3 menit 15 detik ini memperlihatkan bahwa kini manusia lebih peduli terhadap apa yang terjadi dilayar gawai mereka dan kehilangan empati terhadap apa-apa yang ada dihadapan mereka saat di dunia nyata.

Masih di tahun yang sama, media sosial Instagram sebagai aplikasi yang memiliki fitur yang kerap kita gunakan saat ini — Insta Story telah menggantikan aplikasi Snapchat yang hadir sejak 2013 lalu. Fitur ini amat digemari oleh masyarakat dunia, khususnya masyarakat Indonesia. Kemudahan dalam membagikan setiap momen dalam bentuk foto dan video yang dapat diakses hanya dalam waktu 24 jam membuat fitur ini terkenal dikalangan remaja dan orang dewasa.

Fitur ini secara tidak langsung membuat kita kepo tentang kegiatan apa yang teman-teman kita lakukan. Tanpa disadari, fitur ini mendorong kita untuk terus mengecek smartphone kita, dan lama-lama timbul pertanyaan yang khususnya saya alami sendiri, yakni “Mengapa kehidupan ‘Dia’ lebih menyenangkan dari Saya?” Maka timbul lah “penyakit” FoMO dalam diri kita.

Mungkin sering kita mendengar istilah Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri dan mungkin istilah ini adalah salah satu kalimat yang dapat mewakilkan perasaan kita saat mengidap “penyakit” FoMO. Saat melihat kehidupan yang tergambarkan dalam sebuah story teman kita maupun orang terkenal, mungkin beberapa di antara kita pernah merasa, “Wah enak ya jadi dia, bisa jalan-jalan kemana-mana” atau “Kapan ya gue bisa jadi seperti dia?” Kita mungkin dengan mudah bisa menduga seseorang memiliki kehidupan yang lebih indah, tetapi apa kita tahu seperti apa pribadi dibalik layar smartphone itu?

Sering kali kita menilai seseorang hanya lewat feeds Instagram yang mereka miliki atau stories yang mereka unggah. Momen berharga yang diunggah oleh pengguna akun-akun di Instagram mungkin saja hanya kebahagiaan kecil dibalik segala kesedihan atau masalah yang tengah mereka hadapi. Seperti yang dilansir oleh Forbes.com dalam artikelnya “Career FOMO: How to Stop ‘Fear of Missing Out’ From Ruining Your Happiness”, salah satu cara agar kita tidak terpengaruh oleh postingan media sosial orang lain adalah mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu.

Artikel tersebut dengan jelas memaparkan bahwa apa yang kita lihat, belum tentu sesuai dengan keadaan asli si pengunggah. Tentu, tidak mungkin kita mempermalukan diri sendiri dalam media sosial yang kita miliki, maka jalan terbaik untuk terlihat menarik adalah mengunggah hal terbaik yang dapat mengubah pandang seseorang terhadap diri kita.

Kelebihan media sosial dengan mudah mengangkat seseorang yang biasa saja kemudian dapat terlihat luar biasa lewat akun media sosialnya. Tak jarang, setelah Instagram populer, banyak bermunculan istilah-istilah unik seperti Panjat Sosial, Kekinian, Kids Jaman Now, Generasi Micin, dan lain-lain.

Ketakutan merasa tertinggal karena kita tidak melakukan hal yang serupa dengan apa yang sedang orang-orang lakukan cenderung menimbulkan rasa cemas. Contohnya, saat kita sedang beristirahat lalu dengan kebiasaan kita membuka smartphone yang tidak terhitung berapa kali, secara sengaja kita membuka story salah satu teman kita. Story miliknya menggambarkan bahwa ia sedang menikmati kue lezat yang sedang tren membuat kita tergiur. Sontak sebagai pribadi yang tidak ingin ketinggalan zaman, esoknya kita membeli kue tren tersebut. Dengan segala rasa kepo, FoMO, dan cemas, secara tidak langsung kita menjadi si penurut terhadap perkembangan zaman.

Foto: Adinda
Contoh konkrit FoMO lainnya mungkin telah diwakilkan dengan fenomena yang dekat dengan kehidupan kita, salah satunya Saya alami sendiri. Fenomena mengangkat HP atau mengabadikan momen seperti foto dan video saat konser telah menjadi suatu hal yang umum. Sah-sah saja jika penonton konser mengabadikan foto dan video konser sekali-sekali untuk dijadikan kenang-kenangan. Namun, jika sepanjang jalannya konser penonton mengangkat smartphone-nya, lalu mengunggah video rekaman konser ke story mereka, hal ini dapat mengganggu penonton yang ingin menikmati konser sepenuhnya. Kita menonton konser dengan tujuan menikmati musik tersebut, kan? bukan menonton konser lewat rekaman HP yang diangkat. Selain itu, Saya pernah menemukan salah satu following Instagram Saya melakukan Live dengan merekam sepanjang konser yang ia datangi, apa hal itu dapat dianggap wajar?

Kecenderungan warganet untuk membagikan momen saat menonton konser inilah yang bisa dikatakan FoMO, mereka menginginkan semua orang tahu apa yang sedang mereka lakukan dan menunjukkan bahwa mereka tidak ketinggalan zaman.

Masih di Indonesia, beberapa contoh ironi yang terjadi di sekitar kita dengan “penyakit” FoMO yang kuat antara lain: penggunaan beberapa merek HP tertentu dianggap sebagai penilaian sosial, seperti seberapa bagus hasil foto yang dihasilkan kemudian hal ini dapat mempengaruhi kriteria terkenalnya seseorang lewat media sosial. Kemudian dengan teknologi yang terus berkembang, orang-orang banyak mengabaikan skill seseorang dan lebih banyak menanyakan merek dari alat atau tools yang digunakan. Sekali lagi, orang yang mengidap “penyakit” FoMO mengedepankan apa pun agar dirinya diterima orang banyak. Lalu, salah satu tipe Insta Story yang paling ironi menurut Saya, yakni mereka merekam lagu tertentu yang sedang mereka dengarkan lewat smartphone atau radio terkait lirik yang mewakili isi hati mereka, dengan dibubuhi kalimat mood. Kegiatan merekam lagu ini tentu saja agar orang-orang tahu bahwa “ini lho, aku suka lagu ini” atau “lagu ini enak banget, buat kamu” ditujukan oleh orang tertentu dengan harapan seseorang itu akan paham isi hati seorang pengunggahnya, padahal belum tentu pesan tersebut dapat dimengerti oleh orang yang dituju.

Selain itu, fenomena FoMO mempengaruhi sikap seseorang dan akhirnya ia rela melakukan apa pun agar dirinya dikenal atau istilah viral dapat ia miliki. Selanjutnya FoMO telah menyebar disegala aspek kehidupan, termasuk kegiatan sehari-hari berkaitan dengan makanan apa yang sedang kita nikmati terlebih jika kita sedang makan di sebuah restoran bergengsi, tempat nongkrong yang sedang hits atau makanan yang baru yang belum umum dikonsumsi teman-teman kita. Saat sebelum makan, kita memotret makanan kita untuk dibagikan di story, dengan tujuan agar mereka tahu kita sedang di mana dan makan apa.

Beralih ke fenomena dunia, Saya menemukan banyak kasus yang sudah tidak masuk akal dengan latar belakang FoMO. Salah satunya 2017 lalu, Tagar #BlueWhaleChallenge berhasil mempengaruhi emosi remaja yang sedang depresi dan mendorong mereka untuk mengakhiri hidupnya. Aksi yang mengharuskan seseorang mengikuti tantangan sang kurator selama 50 hari telah diikuti remaja belahan dunia, seperti Rusia, Chile, Spanyol, Ukraina, dan Portugal lewat akun media sosial, dalam grup, hingga percakapan pribadi mereka.

Surat kabar investigatif Novaya Gazeta melaporkan: “Kami telah menghitung 130 kasus bunuh diri anak-anak yang terjadi antara November 2015 sampai April 2016. Hampir semua anak ini adalah anggota kelompok internet yang sama dan tinggal di keluarga yang baik dan bahagia”, seperti yang dilansir dalam cnnindonesia.com (03/05/2017).

Berbicara mengenai FoMO tentu sangat erat kaitannya dengan Gen Y dan Gen Z. Kedua generasi ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi Y (kelahiran 1981–2000), dinilai sebagai pekerja keras yang berusaha untuk menunjang gaya hidup mereka. Sedangkan Generasi Z (kelahiran 2001–2010), dinilai sebagai generasi peralihan dari Gen Y, yakni saat teknologi sedang berkembang. Pola pikir Gen Z cenderung serba ingin instan. Namun, hal ini belum pasti mengingat usia mereka masih dalam kategori remaja atau ABG (Anak Baru Gede). Kehidupan mereka yang memiliki kaitan erat dengan teknologi, menjadikan mereka generasi yang peduli terhadap popularitas dari media sosial yang mereka gunakan.

Seperti yang kita ketahui, semua penyakit ada obatnya — tak terkecuali “penyakit” FoMO ini. Kita dapat menghindari FoMO dengan berbagai cara. Kita harus selalu mengingatkan diri kita untuk having real conversation atau memiliki percakapan nyata tanpa smartphone ketika sedang menghadiri acara penting atau sedang berlibur. Belajar mengontrol diri sendiri dalam penggunaan media sosial juga perlu, hal ini demi menikmati peristiwa yang ada di sekitar kita, kita tak harus selalu tahu apa yang sedang teman-teman kita lakukan. Sesekali boleh saja, namun menghindari penggunaan smartphone agar tidak kecanduan media sosial tentunya agar kita lebih menikmati hidup. Sejatinya, “penyakit” ini adalah sebuah pilihan yang dapat dijalani atau dihindari.

Kita perlu mengubah persepsi penggunaan media sosial — yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan karya, kreativitas, menjalin silaturahim, menginspirasi orang banyak tentunya tanpa menghadirkan niat pamer namun lebih ke bentuk positif hal yang kita bagikan. Media massa telah membentuk ruang publik yang sangat luas dengan memungkinkan warga berpartisipasi, salah satunya dengan menjadi Citizen Journalist (praktek jurnalisme yang dilakukan oleh warga) melalui gadget atau gawai yang mereka miliki untuk meliput kejadian yang terjadi secara tiba-tiba di hadapan mereka dan mengabarkannya kepada warganet.

Sedari kecil, setiap orang memiliki cita-cita yang berbeda-beda. Meraih impian dengan semangat yang membara serta rasa ingin tahu yang tinggi merupakan hal yang positif. Namun, jika suatu saat timbul rasa cemas disertai kekhawatiran “did I miss something’’ atau gejala FoMO, kita harus cepat-cepat mengatasinya karena hal ini dapat menurunkan kebahagiaan yang berdampak pada turunnya produktivitas seseorang.

Memiliki pengetahuan terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar dan dunia memang penting, namun jika kita lebih mengutamakan media sosial dan mengabaikan kewajiban dunia nyata, pola hidup kita perlu ditata ulang kembali.

Say no to FoMO!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar