Yah kamu lagi.
sudah ku bilang berapa kali sih untuk tidak datang ke dalam pikiranku lagi?
aku kan sudah mengusirmu jauh-jauh dari hari kemarin, pun kamu masih tak mau pergi juga? apa sih mau mu?
kau bilang kau tak akan pernah muncul lagi dihadapanku.
memang, aku percaya itu. tapi mengapa kau masih sering mampir dalam benakku?
aduh, kisah kita ‘kan telah usai,
harapan masa depan tak akan ku khayal dengan mu lagi,
lantas apa yang telah benakku perbuat hingga kau masih tak mau pergi juga?
kau ini, memang amat sangat menyebalkan. aku tak lagi menyukaimu. tak sekali, takkan lagi, selamanya.
lebih baik, hampirilah hati yang telah kau kejar itu, yang dulu kau bela-bela demi meraih cintanya dan meninggalkanku.
tak perlu banyak alasan, cukup pergi dari benakku saja. aku tidak pernah meminta lebih.
kehadiranmu yang semu menyakiti syaraf otakku yang kini tak pernah ingat akan kenangan yang telah kita rajut.
sudah ku bilang, aku tak pernah meminta lebih.
aku tau kau tak disini. aku tau.
tapi aku usir kau dari benakku sekali lagi, sekali lagi, dan jangan pernah mampir tanpa ku pinta.
hidupku damai tanpamu, hidupku lebih bermakna tanpamu.
kejarlah semua yang kau cita-citakan dan buktikan semua yang kau katakan bahwa itu bukanlah omong kosong belaka.
takkan pernah ku sekali-kali menaruh harapan pada manusia sepertimu lagi, yang tak tahu cara menghargai wanita yang telah membuka hatinya ‘tuk kesempatan kedua dengan orang yang sama.
dasar bodoh, seharusnya kau tak usah mampir ke otakku lagi, bodoh.
jika sudah pergi, ya pergi saja.
tak usah menampakkan diri lagi,
dalam bayang-bayang semu yang kau buat di dalam benakku, yang telah kau racuni.
kumohon pergi dari benakku, wahai bayang-bayang semu yang tak tahu diri.
bayang-bayangmu telah menimbulkan kabut asap di benakku.
kau polusi, pergi.
tempatmu bukan dibenakku lagi.
Adinda, 31 Oktober 2016.