Halaman

Senin, 31 Oktober 2016

Polusi

Yah kamu lagi. 
sudah ku bilang berapa kali sih untuk tidak datang ke dalam pikiranku lagi?
aku kan sudah mengusirmu jauh-jauh dari hari kemarin, pun kamu masih tak mau pergi juga? apa sih mau mu?
kau bilang kau tak akan pernah muncul lagi dihadapanku.

memang, aku percaya itu. tapi mengapa kau masih sering mampir dalam benakku? 
aduh, kisah kita ‘kan telah usai, 
harapan masa depan tak akan ku khayal dengan mu lagi, 
lantas apa yang telah benakku perbuat hingga kau masih tak mau pergi juga?

kau ini, memang amat sangat menyebalkan. aku tak lagi menyukaimu. tak sekali, takkan lagi, selamanya.
lebih baik, hampirilah hati yang telah kau kejar itu, yang dulu kau bela-bela demi meraih cintanya dan meninggalkanku.
tak perlu banyak alasan, cukup pergi dari benakku saja. aku tidak pernah meminta lebih.
kehadiranmu yang semu menyakiti syaraf otakku yang kini tak pernah ingat akan kenangan yang telah kita rajut.

sudah ku bilang, aku tak pernah meminta lebih. 
aku tau kau tak disini. aku tau. 
tapi aku usir kau dari benakku sekali lagi, sekali lagi, dan jangan pernah mampir tanpa ku pinta.
hidupku damai tanpamu, hidupku lebih bermakna tanpamu.

kejarlah semua yang kau cita-citakan dan buktikan semua yang kau katakan bahwa itu bukanlah omong kosong belaka.
takkan pernah ku sekali-kali menaruh harapan pada manusia sepertimu lagi, yang tak tahu cara menghargai wanita yang telah membuka hatinya ‘tuk kesempatan kedua dengan orang yang sama.
dasar bodoh, seharusnya kau tak usah mampir ke otakku lagi, bodoh.
jika sudah pergi, ya pergi saja. 

tak usah menampakkan diri lagi, 
dalam bayang-bayang semu yang kau buat di dalam benakku, yang telah kau racuni.
kumohon pergi dari benakku, wahai bayang-bayang semu yang tak tahu diri.
bayang-bayangmu telah menimbulkan kabut asap di benakku.

kau polusi, pergi.
tempatmu bukan dibenakku lagi.

Adinda, 31 Oktober 2016.

Minggu, 30 Oktober 2016

Apa artinya hujan buatmu, Adinda?


Hujan adalah……. 
kamu. 
Hujan adalah saat Aku menatapmu pekat untuk pertama kalinya.
Hujan adalah saat kamu menggenggam tanganku untuk pertama kalinya.
Hujan adalah saat kamu… tersenyum hangat padaku, untuk pertama kalinya.

Hujan adalah… saat aku bersamamu, aku merasakan kehangatan.
Hujan adalah saat kau dan aku, berjanji untuk selalu bersama.
tak peduli seberapa jauh aku melangkah, aku akan selalu teringat tentangmu saat hujan turun.
rintik demi rintik ku nikmati, karena ku kan selalu merindukan senyum manismu, senyum indahmu, dan wajahmu yang tampan.
(Februari, 2014)

tetapi, hujan tidak hanya mengingatkanku akan semua hal yang membuatku rindu kepadamu.

Hujan adalah saat aku menatapmu pekat untuk terakhir kalinya.
Hujan adalah saat kau menggenggam tanganku untuk terakhir kalinya.
Hujan adalah saat dimana aku dapat berbicara denganmu, melihatmu tertawa, melihatmu tersenyum manis hanya untukku saja, untuk terakhir kalinya.
Hujan adalah saat kau memelukku,  walau menurutmu itu hanya candaan semata untuk terakhir kalinya.

Hujan adalah saat aku harus melepas semua kehangatan tentangmu, tentang kenangan manis yang kita rajut, tentang masa depan yang telah kita khayalkan untuk terakhir kalinya.
Hujan adalah saat kita memutuskan untuk saling meninggalkan, dan berjanji untuk tidak mengusik kehidupan satu sama lain untuk terakhir kalinya.
(September, 2016)

Tapi apa kau tau apa itu hujan?
Hujan adalah saat awan melepas air, membiarkan ia jatuh, untuk menjadi indah, dengan caranya sendiri. 

Hujan mengajarkan kita untuk mencintai.
Hujan mengajarkan kita untuk menyayangi.
Hujan mengajarkan kita untuk melepaskan.
Hujan mengajarkan kita untuk merelakan.

Kira-kira kau dan aku seperti itu.
Kita bertemu dalam Hujan, dan berpisah dalam Hujan.

Tapi apakah kau mau tau apa yang paling aku sukai dari hujan?
rasa tenangku, masih kau peluk dengan rintikan rasa ditinggalkan.

Kau hujan,
tetaplah disana. 
jangan ganggu aku lagi, ya.