Halaman

Rabu, 23 November 2016

Bersamamu

Kehidupan itu...
ada kalanya kita merasa bahagia, dan senang tiada tara, tanpa menghawatirkan hal-hal yang mengganggu pikiran, tetapi ada kalanya kita harus merasakan kesedihan yang mendalam, karena terlalu menghawatirkan sesuatu yang mengganggu pikiran kita.

Semua yang kita hadapi dalam hidup ini tidak pernah bisa kita prediksi kapan datangnya. Bisa datang diwaktu yang tepat, tetapi kadang datang tanpa menyapa; tiba-tiba.

Senang atau susah, menangis atau tertawa, hitam atau putih, baik atau buruk, bising atau sunyi, menjerit atau bungkam hanyalah bagian kecil dari setiap sisi kehidupan. Karena semua bagian dari hidup telah diciptakan secara berpasangan.

Sama halnya dengan kedatangan dan kepergian yang selalu hadir dalam satu paket. Tetapi mempertahankan atau melepaskan sesuatu terkadang masih selalu menjadi beban terberat untuk dipertimbangkan.

Namun, hidup ini telah mengajarkanku tentang manis dan pahitnya ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat kusayangi. Tapi akupun sadar, tidak semua hal harus diperjuangkan sepenuh tenaga. Terkadang ada hal yang perlu dibiarkan saja, terhempas oleh angin dan terlupakan.

Baiklah,
Jika itu maumu, meninggalkanmu bukanlah hal yang berat. Tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa hanya dengan bersamamu, aku tidak butuh tempat lain yang lebih nyaman. Pelukan hangatmu sudah berhasil membuatku memaafkan dan melupakan semua kenangan pahit yang telah kau berikan.

Kurang lebih seperti itu isi pikiranku selama ini.

Pelukan bisa membuatku nyaman, tetapi ada hal yang bisa membuat dadaku sesak sampai tak ingin lagi memaafkanmu. Kau tahu apa itu? Rasa kecewa yang kau buat disaat aku mengharapkan sesuatu yang indah bersamamu namun kau memilih untuk meninggalkanku demi bahagiamu.

Rasa kecewa ini telah menusuk batinku yang selama ini ku korbankan untukmu. Kini, pelukanmu tak lagi jadi penenangku, justru menjadi pembunuhku. Ada kalanya aku harus melakukan sesuatu yang berbanding terbalik dengan isi pikiranku yang hanya ingin merasakan nyamanmu.

Hati ini kadang harus tersakiti terlebih dahulu agar dapat bangkit kembali menggapai cita-cita dan angan yang telah kau runtuhkan saat kita bersama. Aku tahu tak ada hal yang sia-sia saat Aku bersamamu, pun tak perlu ada hal yang disesali. Namun, kini, hati ini tak dapat lagi ku korbankan untukmu lagi, wahai sang penghancur jiwa.

Sayang, pahami kata-kata ini sejenak.
Hal yang paling indah dalam hidupku ini adalah bersamamu. Walau barang sedetik atau semenitpun tak akan terbuang sia-sia karena Aku merasakan nyaman saat bersamamu.

Bersamamu Aku merasakan hal-hal yang untuk pertama kalinya aku rasakan, dan kaulah satu-satunya yang dapat memulai semua itu.

Bersamamu, semua terasa mudah, tak ada beban, karena kau selalu ada mendengarkan kisahku sebelum kau tidur.

Sayang, Aku rela mengorbankan hatiku, demi bersamamu. Segala hal-hal yang membahagiakanmu, akan kulakukan, Apapun itu.

Meski harus melepasmu dan melihatmu memeluk orang lain… yang sudah pasti bukan aku lagi.

Bersamamu, aku belajar banyak hal, hal-hal yang tadinya tak pernah ku bayangkan Aku akan menderita sesakit ini. Kau mengajarkanku kebahagiaan dan rasa kecewa setelahnya.

Pada akhirnya,
Bersamamu, membuatku muak dan ingin segera pergi meninggalkanmu tanpa menoleh barang sedetikpun.

Mari sama-sama mencari kebahagiaan masing-masing tanpa harus mengusik satu sama lain.

Bersamamu, bahagiaku.
Bersamamu, rasa kecewaku.

Bersamamu, Aku ikhlas.

Bersamamu, Aku relakan kau dengan yang lain.

Kabarku

Jadi, setelah menghilang tiada kabar.
Sekarang, kau hanya bertanya apa kabar?

Separah itukah egoismu terhadapku?
pergi, seenaknya
datang semaunya
dan sekarang kau hanya bertanya
Apa kabar?

Kau pikir dengan semua luka yang telah kau torehkan,
semuanya telah hilang begitu saja
dan kau bagai tak terbebani 
hanya ingin menanyakan kabarku?

pernah kah kau sekalipun
membayangkan kabar hatiku?
hati yang telah kau goreskan
dengan tinta-tinta kekecewaan
yang mestinya... tak pantas ku dapatkan

apakah pernah?
terbesit oleh benakmu,
apakah hatiku baik-baik saja?

tolong perhatikan kata-kataku baik-baik;
Kau tak ada artinya lagi bagiku.
segala kenangan menjadi seperti pensil.
tulislah sesukamu, pergunakan sebaik-baiknya,
namun perihal menghapus,
hanya aku yang tahu.

Kini, rinduku seperti ombak,
yang berjuang menerjang matahari;
sia-sia dan tak ada gunanya.

Sebuah "Apa kabar?" setelah kau lukai?
kau masih berani menyapaku?
bolehkah aku bertanya,
apakah urat malu mu sudah putus?
atau bahkan, kau tak memiliki urat malu?

Maka setelah empat tahun ini,
dan kau masih bersikeras 
menanyakan perihal kabarku,
maka aku akan menjawabnya.

"Maaf, kau ini siapa ya?"

Jumat, 04 November 2016

Bisa

Sepi ya hari ini
kamu tak disini
atau jika kau disini
pun sama saja
tak ada bedanya

rindu? biasa
diacuhkan? biasa
diabaikan? juga biasa
tetapi, ditinggalkan? jangan lagi

kumohon, kali ini,
janganlah sekejam itu
apalah arti kedekatan kita?
bak kabut asap
yang membutakan visual

kenapa kau harus pergi juga?
oh, kalau begini jadinya,
aku tak ingin jatuh lagi
tak ingin jatuh ke lubang yang sama
dan tersakiti lagi

Aku tuh sudah kepincut,
lantas, hatiku bisa apa?
jika cuma inginkan kamu,
aku bisa apa?

aku hanya bisa melakukan satu hal.

aku bisa kok
bisa-bisa sayang kamu.

Terkadang

Terkadang...
terkadang ada satu laki-laki yang dapat membuatmu nyaman, dalam kondisi apapun. Ntah saat kau tertawa terlalu kencang, saat kau melahap makanan hingga belepotan, atau saat kau cerita tentang sakit hatimu, namun menjadi tak sakit kemudian. 

Terkadang...
terkadang ada satu laki-laki yang dapat memahamimu, saat yang lain tak ada. Ia dapat memahami segala kondisi saat kau terpuruk, lelah hingga bahagia. Hanya ada satu laki-laki yang akan memahamimu dalam sulitnya rintangan hidup yang kau lewati, rumitnya tugas yang harus kau selesaikan, dan bahagianya kau saat mendapat sesuatu yang telah kau impikan.

Terkadang...
terkadang hanya ada satu laki-laki yang dapat membuatmu merasa tak sendirian, dimanapun kau berada. Ntah saat kau jauh darinya, ntah saat dia tak menemani, rasanya ia selalu ada. 

Terkadang...
terkadang hanya ada satu laki-laki yang dapat mencintaimu, layaknya kau tak ada bandingannya. Seseorang yang akan selalu kembali dalam pelukmu, sejauh apapun ia melangkah. Selalu sadar dimana tempat ia kembali, sejauh apapun ia pergi. Kau selalu menjadi tempat pulangnya, dan ia menerima segala kekuranganmu, seburuk apapun itu.

Terkadang...
terkadang hanya ada satu laki-laki yang dapat membuatmu jatuh cinta, lagi, dan lagi. Ntah beberapa tahun kedepan, ataupun satu tahun berikutnya, saat kau menemui laki-laki ini lagi, kau akan tetap jatuh cinta padanya, lagi.

Terkadang...
terkadang hanya ada satu laki-laki yang dapat kau jadikan pundakmu, pundak dimana kau menangis, mengeluhkan segala keluh kesahmu, dan meredakan segala emosimu. 

Akan ada salah satu laki-laki yang akan menjadi sebuah "Terkadang" mu suatu hari nanti. Walaupun laki-laki tersebut tak kan menjadi semua yang kau inginkan, tetapi ia akan memenuhi setidaknya satu kriteria yang kau butuhkan. Ntah membuatmu nyaman, dapat memahamimu, dapat membuatmu merasa tak sendiri lagi, mencintaimu, membuatmu jatuh cinta setiap harinya, ataupun seseorang yang menjadi pundak favoritmu. 

Tak perlu cemas ataupun terlalu memikirkan siapakah laki-laki yang akan bersamamu nantinya. Selagi kau dapat menjadi dirimu sendiri dan dapat meluangkan waktu untuk bertemu orang disekitarmu, tak perlu ragukan keajaiban datang. Saat kau letih mencari, ada kalanya seseorang yang kau nantikan datang sendiri, seseorang yang juga mencari keberadaan perempuan yang selalu menjaga diri dan membuka hatinya.

Semua akan baik-baik saja, tak ada yang perlu kau pikirkan terlalu rumit. Kau masih 17 tahun, umur dimana kau harusnya menikmati dan mencari jati dirimu sendiri. Selagi tak mempunyai pasangan, seharusnya kau bahagia karna kau dapat melakukan apapun tanpa menyakiti hati seseorang. 

Terkadang sendiri itu lebih baik.
Namun bersamamu, jauh lebih baik.

Akan ku tunggu seseorang yang dapat mewarnai hari-hariku, dengan salah satu kriteria "terkadang" ku, yang tak pernah membuat air mataku jatuh barang setetespun.