Kehidupan itu...
ada kalanya kita merasa bahagia, dan senang tiada tara, tanpa menghawatirkan hal-hal yang mengganggu pikiran, tetapi ada kalanya kita harus merasakan kesedihan yang mendalam, karena terlalu menghawatirkan sesuatu yang mengganggu pikiran kita.
Semua yang kita hadapi dalam hidup ini tidak pernah bisa kita prediksi kapan datangnya. Bisa datang diwaktu yang tepat, tetapi kadang datang tanpa menyapa; tiba-tiba.
Senang atau susah, menangis atau tertawa, hitam atau putih,
baik atau buruk, bising atau sunyi, menjerit atau bungkam hanyalah bagian kecil
dari setiap sisi kehidupan. Karena semua bagian dari hidup telah diciptakan
secara berpasangan.
Sama halnya dengan kedatangan dan kepergian yang selalu hadir
dalam satu paket. Tetapi mempertahankan atau melepaskan sesuatu terkadang masih
selalu menjadi beban terberat untuk dipertimbangkan.
Namun, hidup ini telah mengajarkanku tentang manis dan
pahitnya ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat kusayangi. Tapi akupun
sadar, tidak semua hal harus diperjuangkan sepenuh tenaga. Terkadang ada hal
yang perlu dibiarkan saja, terhempas oleh angin dan terlupakan.
Baiklah,
Jika itu maumu, meninggalkanmu bukanlah hal yang berat.
Tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa hanya dengan bersamamu, aku tidak butuh
tempat lain yang lebih nyaman. Pelukan hangatmu sudah berhasil membuatku
memaafkan dan melupakan semua kenangan pahit yang telah kau berikan.
Kurang lebih seperti itu isi pikiranku selama ini.
Pelukan bisa membuatku nyaman, tetapi ada hal yang bisa
membuat dadaku sesak sampai tak ingin lagi memaafkanmu. Kau tahu apa itu? Rasa
kecewa yang kau buat disaat aku mengharapkan sesuatu yang indah bersamamu namun
kau memilih untuk meninggalkanku demi bahagiamu.
Rasa kecewa ini telah menusuk batinku yang selama ini ku korbankan
untukmu. Kini, pelukanmu tak lagi jadi penenangku, justru menjadi pembunuhku.
Ada kalanya aku harus melakukan sesuatu yang berbanding terbalik dengan isi
pikiranku yang hanya ingin merasakan nyamanmu.
Hati ini kadang harus tersakiti terlebih dahulu agar dapat
bangkit kembali menggapai cita-cita dan angan yang telah kau runtuhkan saat
kita bersama. Aku tahu tak ada hal yang sia-sia saat Aku bersamamu, pun tak
perlu ada hal yang disesali. Namun, kini, hati ini tak dapat lagi ku korbankan
untukmu lagi, wahai sang penghancur jiwa.
Sayang, pahami kata-kata ini sejenak.
Hal yang paling indah dalam hidupku ini adalah bersamamu.
Walau barang sedetik atau semenitpun tak akan terbuang sia-sia karena Aku
merasakan nyaman saat bersamamu.
Bersamamu Aku merasakan hal-hal yang untuk pertama kalinya
aku rasakan, dan kaulah satu-satunya yang dapat memulai semua itu.
Bersamamu, semua terasa mudah, tak ada beban, karena kau
selalu ada mendengarkan kisahku sebelum kau tidur.
Sayang, Aku rela mengorbankan hatiku, demi bersamamu. Segala
hal-hal yang membahagiakanmu, akan kulakukan, Apapun itu.
Meski harus melepasmu dan melihatmu memeluk orang lain… yang
sudah pasti bukan aku lagi.
Bersamamu, aku belajar banyak hal,
hal-hal yang tadinya tak pernah ku bayangkan Aku akan menderita sesakit ini.
Kau mengajarkanku kebahagiaan dan rasa kecewa setelahnya.
Pada akhirnya,
Bersamamu, membuatku muak dan ingin
segera pergi meninggalkanmu tanpa menoleh barang sedetikpun.
Mari sama-sama mencari kebahagiaan
masing-masing tanpa harus mengusik satu sama lain.
Bersamamu, bahagiaku.
Bersamamu, rasa kecewaku.
Bersamamu, Aku ikhlas.
Bersamamu, Aku relakan kau dengan
yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar