Sekarang, kau hanya bertanya apa kabar?
Separah itukah egoismu terhadapku?
pergi, seenaknya
datang semaunya
dan sekarang kau hanya bertanya
Apa kabar?
Kau pikir dengan semua luka yang telah kau torehkan,
semuanya telah hilang begitu saja
dan kau bagai tak terbebani
hanya ingin menanyakan kabarku?
pernah kah kau sekalipun
membayangkan kabar hatiku?
hati yang telah kau goreskan
dengan tinta-tinta kekecewaan
yang mestinya... tak pantas ku dapatkan
apakah pernah?
terbesit oleh benakmu,
apakah hatiku baik-baik saja?
tolong perhatikan kata-kataku baik-baik;
Kau tak ada artinya lagi bagiku.
segala kenangan menjadi seperti pensil.
tulislah sesukamu, pergunakan sebaik-baiknya,
namun perihal menghapus,
hanya aku yang tahu.
Kini, rinduku seperti ombak,
yang berjuang menerjang matahari;
sia-sia dan tak ada gunanya.
Sebuah "Apa kabar?" setelah kau lukai?
kau masih berani menyapaku?
bolehkah aku bertanya,
apakah urat malu mu sudah putus?
atau bahkan, kau tak memiliki urat malu?
Maka setelah empat tahun ini,
dan kau masih bersikeras
menanyakan perihal kabarku,
maka aku akan menjawabnya.
"Maaf, kau ini siapa ya?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar